Om Swastyastu Blog ini bisa dibuka di Twitter,Facebook,Youtube,Google+ dan lain sebagainya,... PURA RANGET: PURA LUHUR TANAH LOT

Rabu, 29 Juli 2015

PURA LUHUR TANAH LOT

1. PTL
Pura ini terletak di pantai selatan Pulau Bali yaitu di Desa Braban, Kecamatan Kediri, Tabanan atau sekitar 30 km dari Kota Denpasar. Pura ini menampilkan pesona alarn yang sangat indah dan sempurna. Selain karena keindahan alamnya. pura yang merupakan Dang Kahyangan ini juga diyakini sebagai sumber kemakmuran jagat. Pura yang juga dijadikan objek wisata ini ramai dikunjungi tamu mancanegara maupun nusantara. Bagaimana sejarah berdirinya pura ini?
Cikal bakal berdirinya pura ini sangat erat kaitannya dengan perjalanan Danghyang Nirartha. Orang suci yang juga bernama Danghyang Dwijendra itu berkeliling di Pulau Bali pada tahun Icaka 1411 atau tahun 1489 M. Beliau datang dari Blambangan pada abad ke-15.
Seperti dituturkan dalam kitab Dwijendra Tattwa, setelah berada di Pura Rambut Siwi untuk beberapa lama, beliau yang juga dikenal dengan julukan Pedanda Sakti Wawu Rawuh ini meneruskan perjalanan menuju arah timur seusai melakukan sembahyang pagi, Surya Sewana (memuja Dewa Surya).
Di dalam perjalanan itu, beliau asyik menikmati keindahan alam, sehingga tidak terasa, sore hari telah tiba di pantai selatan Pulau Bali ini. Di pantai ini terdapat sebuah pulau kecil yang berdiri di atas tanah parangan (tanah keras). Di situlah Danghyang Nirartha beristirahat. Tidak lama setelah beristirahat. datanglah para nelayan dengan membawa berbagai makanan untuk dipersembahkan kepada beliau.
Oleh karena hari sudah sore, para nelayan mohon agar beliau berkenan menginap di pondok mereka. Namun, permohonan itu ditolak karena beliau lebih senang bermalam di pulau kecil itu. Di samping karena udaranya yang segar, dari sana beliau dapat melepaskan pandangannya ke segala arah.
Pada malam harinya, beliau memberikan wejangan agama. kehajikan dan susila kepada masyarakat desa yang datang menghadap. Kala itu beliau menasihati kepada masyarakat desa untuk membangun parahyangan di tempat itu, karena menurut getaran batin beliau serta adanya petunjuk gaib bahwa di tempat itu sangat balk dimanfaatkan sebagai tempat memuja Hyang Widhi. Setelah Danghyang Nirartha meninggalkan tempat itu dibangunlah sebuah bangunan suci yang kini dikenal dengan Pura Luhur Tanah Lot.
Dari beberapa catatan dikisahkan pula. sebelum melanjutkan perjalanan beliau melakukan meditasi di tempat itu. Saat melakukan persembahyangan, ikat pinggang beliau terlepas dan berubah menjadi ular. Sampai sekarang ular berbentuk poleng hitam putih itu, dikenal sehagai ular duwe atau holy snake. Pada slang hari, ular itu tidur di Iuhang-lubang karang dan bisa dilihat dan diraba, asal penuh dengan kasih sayang, tanpa mengganggu tidur mereka.Di pura ini terdapat beberapa palingggih yakni palinggih Ageng Siwa Budha yang beratap tumpang lima, letaknya persis di tengah pura sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa. Juga terdapat palinggih Pedanda Sakti Wawu Rawuh, merupakan palinggih atap tiga yang dilengkapi dengan arca beliau. Palinggih Batara Sri merupakan palinggih yang terletak hampir di belakang palinggih ageng yang arahnya menghadap ke laut. Selain itu juga terdapat palinggih Lingga¬Yoni persis di belakang palinggih ageng yang berdampingan dengan palinggih Dewi Sri.
Seperti kebanyakan pura lainnya di Bali, pujawali di pura ini jatuh setiap 210 hari tepatnya Buda Wage Langkir atau 14 hari setelah hari raya Galungan, sesuai dengan perhitungan kalender Bali. Selain untuk memohon kesucian ataupun kesembuhan melalui toya beji, di pura ini, para pemedek biasanya memohon kemakmuran atau doa untuk keberhasilan suatu usaha.
Pura di Sekitarnya
Sejumlah pura yang ada di sekitar Pura Tanah Lot adalah Pura Pekendungan, Pura Penataran, Pura Jero Kandang, Pura Enjung Galuh, Pura Batu Bolong dan Pura Batu Mejan. Pura Pekendungan merupakan satu-kesatuan dengan Pura Tanah Lot. Pada mulanya tempat ini bernama Alas Kendung, digunakan sebagai tempat meditasi atau yoga semadi, untuk mendapatkan sinar suci sebelum melanjutkan perjalanan.
Di Pura Pekendungan terdapat keris sakti bernama Ki Baru Gajah yang memiliki kekuatan untuk menaklukkan penyakit tumbuh¬tumbuhan di Bali. Keris ini merupakan anugerah Danghyang Nirartha kepada pemimpin Desa Beraban. Keris itu kini disimpan di Puri Kediri. Saat piodalan, Sabtu Kliwon Wara Kuningan, keris ini di¬pendak serangkaian piodalan.
Sedangkan Pura Jero Kandang merupakan pura yang dibangun oleh masyarakat Beraban dengan tujuan untuk memohon perlindungan bagi ternak dan tumbuhan mereka dari gangguan berbagai penyakit.
Akan halnya Pura Enjung Galuh berlokasi dekat dengan Pura Jero Kandang. Menurut beberapa catatan, pura ini dibangun untuk memuja Dewi Sri yang merupakan sakti dari Dewa Wisnu yang piodalannya setiap Rabu Umanis Wara Medangsia. Di pura ini masyarakat memohon kesuburan jagat.
Sementara itu, Pura Batu Bolong merupakan tempat melakukan pamelastian maupun pakelem dengan maksud menyucikan alam. Sedangkan Pura Batu Mejan atau dikenal dengan beji merupakan tempat untuk mendapatkan tirtha penglukatan.
Stana Hyang Sadhana Tra
Khusus untuk Pura Luhur Pekendungan, menarik juga untuk dituturkan lebih jauh. Pura ini merupakan salah satu pura yang terdapat di kawasan wisata Tanah Lot, Desa Braban, Kediri, Tabanan. Pura ini merupakan tempat suci yang usianya telah terbilang tua dan merupakan stana Hyang Sadhana Tra. Dalam Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul (Pura Luhur Pekendungan) disebutkan, pura ini dibangun pada Isaka Warsa 1330 tahun 1408 Masehi.
Dalam purana itu disebutkan pula bahwa pura ini patut disungsung oleh seluruh umat Hindu di Bali, termasuk pucuk pemerintahan. Sebab, dalam sejarah pendiriannya, pura ini dibangun sebagai penjaga wilayah agar selamat, negara makmur, pemerintahan stabil dan kehidupan penduduk yang tenang. Singkatnya untuk menjaga ajegnya negeri.
Dalam Purana Bangsul dituturkan, pendirian pura ini berkaitan erat dengan perjalanan Sri Maha Raja Dalem Anom Sukaranti yang diiringi oleh patihnya Ki Demang Copong, yang berasal dari negara Konca Cina.
Setelah berada di Bali, diberi anugerah berupa tempat tinggal termasuk pasukan dan hulubalangnya semua. Pada saat itulah beliau membangun sejumlah pura pemujaan di berbagai tempat di Bali seperti Parhyangan Candi Purusada yang dibangun sebagai stana Batara Guru yang merupakan penyangga stabilitas Bali pertama. Setelah membangun Pura Dasar Gelgel, Dalem Anom Sukaranti pergi ke arah timur membangun Pura Goa Lawah. Setelah itu pergi ke arah barat laut dan membangun Kahyangan Nagaloka. Dalam perjalanan beliau menuju arah barat, di pantai Jembrana dibangunlah kahyangan Kapurancak, sebagai stana dewa yang berstana di dasar bumi. Setelah itu Dalem Anom Sukaranti pergi ke timur, diiringi oleh patih Demang Copong dan segenap hulubalangnya, tiba di puncak Gunung Watukaru. Di sana juga beliau membangun kahyangan yang diberi nama Pucak Kadaton. Kahyangan tersebut dijadikan stana Batara Hyang Jaya Netra. Di sanalah Dalem Anom Sukaranti beryoga semadi. Dalam yoganya beliau mendengar suara di angkasa yang isinya agar segera pergi ke selatan, menuju tepi laut yang bernama Let (Tanah Lot).
Setelah sampai di tepi laut perbukitan Let, Dalem Anom Sukaranti segera membahas perihal rencana perabasan hutan. Saat itu kembali terdengar sabda dari angkasa yang menyatakan agar mereka segera menemukan batu rata seperti tikar. Setelah ditemui batu yang dimaksud beliau segera melakukan yoga dan terdengarlah sabda yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia seperti ini: “Wahai anakku, Hyang Sadhana Tra gelarku. Jangan sekarang engkau membangun kahyangan, sebab belum waktunya. Kelak di tempat ini kahyangan itu dibangun, sekarang kembalilah engkau semua ke negara Jong Karem.”
Pada waktu pemerintahan Dalem Ketut Ngulesir yang beristana di Gelgel, beliau memerintahkan Ki Kaki Twa untuk membangun parahyangan di tepi laut perbukitan Let. Setelah Ki Kaki Twa memperoleh ciri-ciri tempat yang dimaksud, is segera merabas hutan untuk membangun pemujaan Penyiwian Jagat, sebagai hulunya orang desa. Pura tersebut dinamakan Pura Pekendungan. Keti ka is merabas hutan di kawasan itu, ditemukan batu rata seperti tikar, dinaungi oleh pohon kendung. Dititahkan bahwa beliau yang bergelar Hyang Sadhana Tra berkenan distanakan di pura itu, sampai kelak kemudian hari, sebagai penjaga wilayah agar selamat dan negara makmur. Dinyatakan agar pura itu menjadi pusat perhatian pucuk pemerintahan, sebagai stana Hyang Lohana yang menjaga kehidupan penduduk.
Dikisahkan, untuk mendirikan pura, banyak penduduk di pinggir Kerajaan Mengwi seperti Munggu, Seseh, Cemagi, Braban, Watugaing, Bwit Kalakahan, Pandak bergotong royong merabas hutan lebat. Setelah lama merabas hutan terlihatlah batu rata berwarna putih. Bentuknya persegi, indah dan suci. Di sampingnya ada pohon kendung tinggi besar. Saat pohon itu akan ditebang terdengarlah sabda yang memberikan petunjuk. Bahwa di tempat itu patut didirikan dharma parhyangan, sebagai panyiwian jagat, sebagai hulunya penduduk desa sewilayah kerajaan Bali. “Jangan alpa dari sekarang sampai kelak, seketurunanmu patut ikut nyiwi, kalau ingin negaramu ajeg, demikian pula sang Raja,” demikian titah itu.
Setelah pura selesai dibangun, dilangsungkanla upacara pada hari Sabtu Kliwon, Kuningan sampai Wuku Merakih, sasih Kelima, Isaka warsa 1330 tahun 1408 Masehi. Menurut Purana yang telah disosialisasikan ke masyarakat di Kediri baru-baru ini, pura ini wajib disungsung oleh semua orang Bali. Untuk kemakmuran negeri seluruh rakyat Bali hendaknya tidak alpa melakukan pemujaan di pura ini.
Sebagai Yoni
Keberadaan Pura Tanah Lot sebagai Pura Segara juga ada hubungannya dengan Pura Luhur Batukaru sebagai Pura Puncak. Pura Tanah Lot sebagai yoni atau simbol predana. Sedangkan Pura Luhur Batukaru merupakan lingga simbol purusa. Perpaduan dua keadaan alarn ini menjadi sumber kehidupan yang mensejahterakan umat manusia. Angin yang berembus dari gunung yang rimbun dengan pepohonan dan juga yang berembus dari Taut adalah angin yang sangat sehat dan segar untuk dihirup makhluk hidup. Hijaunya pepohonan dan birunya air samudera dapat menyerap dan membersihkan partikel¬partikel kimia yang mengotori udara.
Mengenai hubungan antara Pura Tanah Lot dan Pura Luhur Batukaru ada cerita rakyat yang unik. Konon meru tumpang lima di Pura Luhur Batukaru hilang secara misterius. Dari alam niskala ada pawisik (suara gaib) bahwa menu itu berdiri kokoh di Pura Tanah Lot. Sejumlah umat penyungsung di Pura Luhur Batukaru mencarinya dengan berpakaian adat Bali yang sederhana. Meru yang hilang itu akhirnya memang dijumpai di Pura Tanah Lot. Entah apa sebabnya ikat pinggang yang disebut selempot atau ambed dari pakaian adat umat yang mencari meru tersebut semuanya jatuh di halaman dan sekitar Pura Tanah Lot. Selempot-selempot itulah yang konon menjadi ular-ular jinak yang hidup di sekitar Pura Tanah Lot sekarang (Versi lain mengatakan, ular itu adalah perubahan ikat pinggang Danghyang Nirartha).
Makna yang patut kita simak dari keberadaan Pura Tanah Lot itu adalah cerita hubungan yang harmoni antara umat dengan panditanya dalam menata kehidupan. Demikian juga dapat dikembangkan wawasan tentang hubungan antara laut dan gunung sebagai alam ciptaan Tuhan yang memberikan kita kemurahan sumber kehidupan yang patut kita syukuri.
Keris Ki Baru Gajah
Lalu bagaimana kisah lebih jauh tentang keris Ki Baru Gajah? Berdasarkan Lontar Kundalini Tatwa, pada saat kedatangan Danyang Dwijendra yang bergelar Pedanda Sakti Wawu Rawuh ke pulau kecil Let (Tanah Lot) para nelayan berduyun-duyun menghadap. Saat itu beliau yang lengkap dengan keris bawaannya menyatakan keesokan harinya akan memedek ke Pura Pekendungan.
Keesokan paginya, datanglah Danghyang Nirartha ke Pura Pekendungan. Ki Bendesa Braban lalu menghadap sang pandita di pura tersebut. Saat itu Ki Bendesa menceritakan bahwa desa pakramannya diganggu oleh Ki Bhuta Babahung yang berasal dari Bali Utama. Banyak penduduk yang menjadi korban. Selanjutnya Ki Bendesa memohon kepada Pedanda Sakti Wawu Rawuh agar membantu menghadapi kesulitan yang dialaminya. Mendengar permohonan itu, sang Pandita memberikan keris yang bernama Ki Baru Gajah miliknya untuk mengalahkan Ki Bhuta Babahung. Selain itu Danghyang Dwijendra menitahkan agar keris tersebut diaturkan sesaji di pura tersebut, sebab dapat pula dipakai sebagai penolak hama segala tanaman petani.
Dalam lontar itu dituturkan, keesokan harinya dengan keris tersebut Ki Bendesa dapat mengalahkan Ki Bhuta Babahung dan Desa Pakraman Braban kembali tenteram serta makmur. Hingga saat ini keris tersebut distanakan di Purl Kediri. Setiap hari Sabtu Kliwon Kuningan saat piodalan di Pura Luhur Pekendungan, keris tersebut diaturkan upacara dan di-pendak menuju ke pura itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar